Kamis, 30 Oktober 2025
Langkah-Langkah Merubah Template Blog
Sabtu, 25 Oktober 2025
KOMIKINFORMATIKA : BAB 6 ANALISIS DATA
Hallo, ini adalah komik terkahir ku untuk tugas membuat komik, semoga suka, ya!
Perusahaan yang Jane kerja, menerima Design boneka jelek buatan-nya, karena sekarang sedang trending "Ugly Doll"
Pernah dengar? Boneka jelek namun di lihat lucu. Perusahaan Boneka.Ugly melihat dari data penjualan bulanan, hasil dari penjualan menunjukkan Boneka Monster dapat menandingi penjualan boneka Kucing berwarna merah. Dengan hal tersebut, perusahaan memproduksi masal boneka jelek itu, untuk memenuhi permintaan klien.
Kita jadi tahu, analisis data dapat di ambil dari penjualan(contoh) ataupun permintaan tertinggi.
KOMIKINFORMATIKA : BAB 5 JARINGAN KOMPUTER DAN INTERNET
Hallo-Hallo! Ini komik anjutkan dari bab 4. Semoga suka.
Bayangin kalian udah capek-capek bikin laporan yang deadline-nya hari itu juga, stress bukan? Bikinnya di harus di kampus pula! Udah harus buru-buru, eh pas mau kirim laporan, sinyal-nya putus!?!!! Ah, untung ada temen satu jurusan mu yang paling gondrong di kelas. Eh, pas minta, password-nya sepanjang tulisan di Word mu! Bahkan lebih..
KOMIKINFORMATIKA: BAB 4 TENTANG SISTEM KOMPUTER
Hallo, selamat siang. Untuk memenuhi tugas Informatika, kami di minta untuk membuat komik, semoga suka ya.
Minggu, 12 Oktober 2025
Cerita Sepulang Sekolah
Kalau pulang sekolah, sore mulu! Tapi itu malah jadi pengingat masa-masa aku saaat masih seorang pelajar yang mencari ilmu. Dengan pembuatan blog ini, aku mau membagikan beberapa cerita yang pernah aku alami sepulang sekolah.
Kamis, 09 Oktober 2025
Kisah Gadis dengan Kaktus Berbunga
"Aku tidak pernah melihat sesuatu seperti ini secara langsung. Tajam, menusuk, menyakitkan. Tubuh utamamu meliuk-liuk, kian hari aku melihatmu berkembang dan bermekaran riang. Apa barusan kau memanggil nama ku?"
"AH!"
Darah mengalir dari ujung telunjuknya ke telapak tangannya "Sial.. duri itu menusukku." Ia menggigit bibirnya, menahan sakit saat melihat air terjun manis tersebut."Sepertinya aku harus pakai sarung tangan."
Tapi akankah duri-duri tersebut tetap menusuk kedalam ujuang jari-jariku?
Keesokan harinya ia kembali ke pasar dan menemui Ibu Lie. "Astaga! Nona! Apa yang kau lakukan dengan jari lentik mu ini?" Tanya Ibu Lie dengan cemas saat melihat perban di jari-jari gadis itu. "Siapa yang menyuruhmu untuk menyentuh kaktus secara langsung?! Mereka bukan lembut! Mereka kasar dan kalau tidak hati-hati dapat menusukmu!"
Huhh.. "Baik! Mari.. coba dengan sarung tangan." Gadis itu sudah sangat siap, siap memotong duri-duri tajam tersebut. "Akhirnya... sekarang aku bisa memegangmu." Perlahan namun pasti, dengan harapan yang ada, ia mecoba memegangnya sekali lagi dengan tangan kosong. Tidak begitu sakit. "Sayangnya kamu masih seukuran dengkul ku, mungkin kalau lebih tinggi aku bisa pelukmu saat tidur, maupun itu akan melukai diriku." Gadis itu pun mengambil beberapa detik untuk menatap kembali kaktus tersebut. "WAH! Sudah mulai tumbuh bunga!"
Gadis itu yang kegirangan berlarian membawanya ke pasar untuk menunjukan bunga kecil tersebut. Atau itu yang ia rasakan, karena orang-orang di pasar melihat ke perban di tangannya yang terus menambah sesaat ia merwat kaktus tersebut.
Biarkan lah itu! Lihatlah kaktus ku yang ku jaga dengan baik ini!
Hari-hari telah berlalu, tampangnya Ibu Lie tidak senang saat gadis itu kembali untuk sekian kali hanya untuk menceritakan romansa kaktusnya itu. Suatu sore, saat gadis itu mampir ke dagangan Ibu Lie, ia di berikan bibit bunga kertas, rawatlah, jagalah, mereka akan menyambutmu dengan baik, kamu mau yang ramai kan? Maka bawalah. Lalu gadis itu di tinggal kan sendiri, kebinungan.
Sesampainya di rumah ia memberi air ke kaktus tersebut, sudah ke 4 kalinya ia menyiraminya hari ini.
Kenapa aku harus menanam bunga kertas? Mereka tidak akan mengganggu kan?
Gadis itu menemukan dirinya menatap layar ponsel, mencari informasi bunga kertas yang ada di internet. Di halaman belakang terdengar tenang. Kaktus juga jarang berbicara, mereka individu yang tidak suka berbicara. Kamu tahu? Bunga kertas dapat tumbuh dan bermekaran lama di bandingkan kaktus. "Kenapa kau tidak tumbuh besar.. kau hanya bermerkaran bunga dalam kurun waktu beberapa jam dalam sehari. Kenapa kau tidak bisa seperti bunga matahari yang akan selalu mekar dan menghadap si penerang dunia?!" Omongan gadis itu keluar atas frustasi. "Apa aku selama ini yang salah dalam merawat mu?! Sekarang mereka meminta ku untuk menanam bunga kertas setelah melihat luka yang kau berikan. Aku.. tidak mengerti!!" Gadis itu terus menuangkan air sampai tidak sadar kalau ia telah berlebihan, dan membuat lantai berbatuan itu basah. "Aku sudah memberikanmu banyak air, oke?!"
Gadis itu sungguh mencoba banyak cara agar kaktus tersebut bisa bertumbuh besar, penuh liuk-liuk liar dengan duri-duri tajam.Selagi ia mengurus bunga kertas di sekitar rumahnya, ia perlahan mulai menghiraukan romansanya dengan kaktus tersebut. Sampai dimana titik ia tidak merawatnya sama sekali dan menyimpannya jauh di belakang sana. Bunga kertas dirumahnya benar-benar membuat rumahnya indah, lebih bersuara, tiap bagi ia di banguni oleh berbagai warna yang memanggil nama gadis itu.
Tapi jika kau menyimpan tomat di lemari, bau busuknya akan tertap tercium kan?
Mengambil keputusan bukanlah hal yang mudah, terkadang kamu harus melewati sesuatu yang kamu takutkan di dalam hidup mu. Ini bukan tentang tajam sebuah duri, ini tentang apa yang kau buat. Membuka pintu, gadis itu di kejutkan dengan bagaimana kaktus itu berkembang & bermerkaran indah. Tubuh utamanya berliuk-liuk liar menyebabkan pot tanah liat itu retak, bunga indah bermekaran lebih berwarna dari apa yang ada di dalam, duri-duri panjang menandakan penantian yang selalu di nanti mengarah ke wajah gadis itu. Bagaimana bisa aku berkomukasi dengan tumbuhan?
AKU HARUS JAWAB APA?
Begitulah kisahnya. Ini bukan sekedar cerita anak-anak. Kisah ini mengambil dari pengalaman teman-teman yang mengalami/di dalam hubungan/berada di tempat yang mereka tidak nyaman. Situasi yang mengarah kesalahpahaman dan saling tidak bisa saling memaafkan. Dengan ini saya berharap kita dapat mengidentifikasi mana hubungan (dalam bentuk apapun) yang sehat maupu tidak sehat.
- Penulis; ZhivanaAHA
Buku Fisik atau Buku Digital?
Halo pembaca! Gimana, sudah baca berapa halaman hari ini? Tunngu.. Kamu baca pakai media apa tadi? Aku dengar kamu baca buku lewat ponselmu!
Ya, kamu pasti pernah melihat ataupun mendengar kata "Buku Digital" belakangan ini. Sesuatu yang aneh, buku namun di dalam layar elektronik. Eits! Ini adalah bukti bagaimana globalisasi memengaruhi pandangan masyarakat besar terhadap sesuatu kegiatan tertentu, permasalahannya kini ialah tardisi membaca lewat lembaran kertas mulai kurang di sukai. Lalu, bagaimana pendapatku mengenai permasalahan ini? Coba kita lihat!
Sebelumnya kenalin aku dulu yuk! Nama aku Zhivana, sekarang duduk di bangku kelas 3 SMP di SMPN 4 Tanggerang Selatan. Sudah 3 tahun belakangan ini aku mencoba untuk lebih sering membaca buku fisik daripada buku digital yang mengharsukanku untuk memakai kacamata. Koleksi komik jepang ku, ku beli dengan uang sisa saku ku. Nah, di kesempakatan kali ini aku mau berbagi pendapatku tenatang "Buku Fiksi atau Buku Digital" Dengan pembuatan blog ini, saya berharap dapat memahami 3 point;
1. Apa itu Buku Digital?
2. Perbedaan Buku Digital dan Buku Fisik
3. Perasaan yang saya rasakan mengenai hal ini.
1. Apa itu Buku Digital?
Adalah buku dalam format elektronik yang dapat dibaca menggunakan perangkat digital seperti smartphone, tablet, komputer, atau e-reader (seperti Kindle). Kontennya bisa berupa teks, gambar. Ngomongin Buku Digital, buat yang suka baca komik biasanya baca lewat website/aplikasi; Weebtoon, Kakaopage, Manga Plush by Shueisha. Namun, dengan banyaknya karya-karya yang di unggah di publik secara bebas, tidak menghindari seseorang untuk membuat situs ilegal tanpa izin resmi dari pembutannya.
2. Perbedaan Buku Digital dan Buku Fisik
Buku Digital : Lewat perantara elektronik, lebih ringan untuk dibawa kemana-mana, hanya menggunakan internet, membuat mata lelah (karena menatap layar yang cerah terus menerus)
Buku Fisik: Dapat di sentuh, memiliki berat dan susah di bawa kemana-mana, harganya bervariatif, biaya produksi lebih mahal karena di cetak dengan tinta yang disesuaikan dengan bahan kertasnya (biasanya bookpaper), tidak di sarankan untuk membaca dengan ruangan yang gelap
3. Perasaan yang saya rasakan mengenai hal ini.
Ini pendapatku, jadi kalau berbeda dengan mu, silahkan berbagi pendapat mu di bawah. 3 tahun yang lalu, tepatnya saat pandemi, aku sering sekali membaca komik lewat buku digital. Waktu itu aku penasaran dengan komik jepang yang saat itu banyak di bahas di internet, dikarenakan lockdown, aku akhirnya memilih untuk membacanya (komik) lewat digital. Kalau di bilang, dulu aku termasuk orang selalu mengikuti update mingguan dari komik jepang itu, ada saja yang ku nantikan di hari minggu pada masa itu. Namun di tahun 2022, aku merasa membaca buku digital lama-lama membuat ku pusing. Dan pada tahun itu juga aku suka menonotn Anime yang berjudul "Spy x Family" Kisah keseharian suatu keluarga di tengah perang dingin eropa dengan upaya saling menyembunyikan identitasnya masing-masing. Mengetahui kalau sudah ada terbitan Indonesia dari komik jepang tersebut, aku meminta bunda ku untuk membelinya sebagai hadiah karena puasa ku penuh pada saat itu. Sejak saat itulah aku mulai suka mengoleksi komik jepang. Aku juga mulai merawatnya, dengan menyampulnya dengan sampul plastik mika, lemari dengan udara, penempatan lemari yang jauh dari matahari.
Jadi, kesimpulanya, aku pernah dan sempat membaca buku lewat digital dalam kurun waktu cukup lama. Namun apa yang ku rasakan setelah memulai mengoleksi komik Jepang, tidak bisa ku utaratkan. Rasanaya dekat dengan penulis/mangaka dari buku yang kita baca.
Baik! Sudah selesai, inilah pendapat saya tenatng Buku Fisik atau Buku Digital.Oh ya, aku penggemar Tatsuki Fujimoto Sensei!!!!!!!!!!!!!!!!!!!











