About

Hallo pembaca! Nama aku Zhivana, aku sekarang kelas IX.I di SMPN 4 Tangsel. Kami di tugaskan untuk membuat Blog, jadi yang ada disini sepenuhnya untuk tugas sekolah. Selamat membaca~

Kamis, 09 Oktober 2025

Kisah Gadis dengan Kaktus Berbunga

     "Aku tidak pernah melihat sesuatu seperti ini secara langsung. Tajam, menusuk, menyakitkan. Tubuh utamamu meliuk-liuk, kian hari aku melihatmu berkembang dan bermekaran riang. Apa barusan kau memanggil nama ku?"


    "Gimana kalau kita pergi dari kota ini?" Pikir gadis itu sebelum memulai kehidupan barunya di sebuah kota kecil, tempatnya tidak jauh dari perkotaan yang ramai. Ia di sambut baik oleh warga setempat. Tinggal di kota yang masih membudidayakan tanaman membuatnya sedikit kebingugan pada awalnya. Berjalan melewati ramainya pasar -

    "Ayo! Beli tiga dapat satu ikan!" "Bibit tanaman diskon untuk pembelian pertama!"

    Namun, dari sekian banyak pedagang, gadis itu melihat seorang wanita parubaya dengan pot-pot tanah liat buatannya. Ia menghampiri pedagang itu, "Ini Ibu buat sendiri?" Tanya gadis itu, membungkukkan badan-nya untuk melihat lebih jelas, ada ukiran khas. "Ah. Anak muda.. kamu pendatang baru ya disini?" Orang-orang melihatnya seperti lukisan tua. "Sudah! Ambil saja yang kau mau... hehe. Panggil saja Ibu Lie." Gadis itu kebingungan saat memilih pot-pot untuk di bawah pulang. 

    Thuk. Gadis itu membawa pot dengan kaktus yang kehausan di tangan kecilnya. Menaruhnya di halaman belakang, ia baru menyadari, tidak ada tanah. "Bagaimana ini?" Lalu ia teringat dengan artikel yang ia baca di internet. "Tunggu, kaktus kan mudah di rawat! Apa susah-nya?" Gadis itu menatap tanaman itu; hijau dengan duri, memegangnya tidak akan membuatmu gila kan?

  "AH!"

    Darah mengalir dari ujung telunjuknya ke telapak tangannya "Sial.. duri itu menusukku." Ia menggigit bibirnya, menahan sakit saat melihat air terjun manis tersebut."Sepertinya aku harus pakai sarung tangan." 

                Tapi akankah duri-duri tersebut tetap menusuk kedalam ujuang jari-jariku?

    Keesokan harinya ia kembali ke pasar dan menemui Ibu Lie. "Astaga! Nona! Apa yang kau lakukan dengan jari lentik mu ini?" Tanya Ibu Lie dengan cemas saat melihat perban di jari-jari gadis itu. "Siapa yang menyuruhmu untuk menyentuh kaktus secara langsung?! Mereka bukan lembut! Mereka kasar dan kalau tidak hati-hati dapat menusukmu!"


    Huhh.. "Baik! Mari.. coba dengan sarung tangan." Gadis itu sudah sangat siap, siap memotong duri-duri tajam tersebut. "Akhirnya... sekarang aku bisa memegangmu." Perlahan namun pasti, dengan harapan yang ada, ia mecoba memegangnya sekali lagi dengan tangan kosong. Tidak begitu sakit. "Sayangnya kamu masih seukuran dengkul ku, mungkin kalau lebih tinggi aku bisa pelukmu saat tidur, maupun itu akan melukai diriku." Gadis itu pun mengambil beberapa detik untuk menatap kembali kaktus tersebut. "WAH! Sudah mulai tumbuh bunga!"


    Gadis itu yang kegirangan berlarian membawanya ke pasar untuk menunjukan bunga kecil tersebut. Atau itu yang ia rasakan, karena orang-orang di pasar melihat ke perban di tangannya yang terus menambah sesaat ia merwat kaktus tersebut.

                   Biarkan lah itu! Lihatlah kaktus ku yang ku jaga dengan baik ini!

    Hari-hari telah berlalu, tampangnya Ibu Lie tidak senang saat gadis itu kembali untuk sekian kali hanya untuk menceritakan romansa kaktusnya itu. Suatu sore, saat gadis itu mampir ke dagangan Ibu Lie, ia di berikan bibit bunga kertas, rawatlah, jagalah, mereka akan menyambutmu dengan baik, kamu mau yang ramai kan? Maka bawalah. Lalu gadis itu di tinggal kan sendiri, kebinungan. 


    Sesampainya di rumah ia memberi air ke kaktus tersebut, sudah ke 4 kalinya ia menyiraminya hari ini.  

                     Kenapa aku harus menanam bunga kertas? Mereka tidak akan mengganggu kan?

    Gadis itu menemukan dirinya menatap layar ponsel, mencari informasi bunga kertas yang ada di internet. Di halaman belakang terdengar tenang. Kaktus juga jarang berbicara, mereka individu yang tidak suka berbicara. Kamu tahu? Bunga kertas dapat tumbuh dan bermekaran lama di bandingkan kaktus. "Kenapa kau tidak tumbuh besar.. kau hanya bermerkaran bunga dalam kurun waktu beberapa jam dalam sehari. Kenapa kau tidak bisa seperti bunga matahari yang akan selalu mekar dan menghadap si penerang dunia?!" Omongan gadis itu keluar atas frustasi. "Apa aku selama ini yang salah dalam merawat mu?! Sekarang mereka meminta ku untuk menanam bunga kertas setelah melihat luka yang kau berikan. Aku.. tidak mengerti!!" Gadis itu terus menuangkan air sampai tidak sadar kalau ia telah berlebihan, dan membuat lantai berbatuan itu basah. "Aku sudah memberikanmu banyak air, oke?!"


    Gadis itu sungguh mencoba banyak cara agar kaktus tersebut bisa bertumbuh besar, penuh liuk-liuk liar dengan duri-duri tajam.Selagi ia mengurus bunga kertas di sekitar rumahnya, ia perlahan mulai menghiraukan romansanya dengan kaktus tersebut. Sampai dimana titik ia tidak merawatnya sama sekali dan menyimpannya jauh di belakang sana. Bunga kertas dirumahnya benar-benar membuat rumahnya indah, lebih bersuara, tiap bagi ia di banguni oleh berbagai warna yang memanggil nama gadis itu. 

Tapi jika kau menyimpan tomat di lemari, bau busuknya akan tertap tercium kan?

    Mengambil keputusan bukanlah hal yang mudah, terkadang kamu harus melewati sesuatu yang kamu takutkan di dalam hidup mu. Ini bukan tentang tajam sebuah duri, ini tentang apa yang kau buat. Membuka pintu, gadis itu di kejutkan dengan bagaimana kaktus itu berkembang & bermerkaran indah. Tubuh utamanya berliuk-liuk liar menyebabkan pot tanah liat itu retak, bunga indah bermekaran lebih berwarna dari apa yang ada di dalam, duri-duri panjang menandakan penantian yang selalu di nanti mengarah ke wajah gadis itu. Bagaimana bisa aku berkomukasi dengan tumbuhan? 


AKU HARUS JAWAB APA?


Begitulah kisahnya. Ini bukan sekedar cerita anak-anak. Kisah ini mengambil dari pengalaman teman-teman yang mengalami/di dalam hubungan/berada di tempat yang mereka tidak nyaman. Situasi yang mengarah kesalahpahaman dan saling tidak bisa saling memaafkan. Dengan ini saya berharap kita dapat mengidentifikasi mana hubungan (dalam bentuk apapun) yang sehat maupu tidak sehat.


- Penulis; ZhivanaAHA

0 comments:

Posting Komentar